Carilah wacana yang membedakan pemanfaatan bahasa indonesia pada atataran ilmiah,semi ilmiah, dan non ilmiah,. uploadlah dalam 3 judul yang berbeda !
Jawab :
Wacana Ilmiah
Perumusan dan penerapan metode elemen hingga dianggap terdiri dari
delapan langkah dasar. Langkah-langkah tersebut akan diuraikan dengan
cara yang sangat umum. Sifat distribusi dari akibat-akibat yang
ditimbulkan dalam suatu benda tergantung dari karakteristik istem gaya
dan benda itu sendiri. Tujuan selanjutnya akan dipakai istilah
perpindahan atau deormasi sebagai pengganti istilah akibat.
Diasumsikan
adalah sulit untuk mencari distribusi u dengan memakai metode-metode
konvensional dan diputuskan untuk memakai meode elemen hingga yang
didasarkan pada konsep diskritisasi. Benda dibagi menjadi sejumlah
elemen kecil yang dinamakan elemen-elemen hingga. Akibat
pembagian(subdivisi) semacam ini adalh perpindahan turut didiskritisasi
menjadi sub-sub zona yang bersesuaian.sekarang elemen-elemen hasil
pembegian diatas menjadi lebih mudah untuk ditinjau, ibandingkan dengan
peninjauan seluruh benda dan distribusi u pada benda tersebut.
Pemeriksaan
terhadap elemen-elemen, akan melibatkan uraian hubungan kekakuan beban.
Untuk mendapatkan hubungan semacam ini dipakai hokum dan prinsip yang
mengatur sifat benda.perhatian utma adalah mencari distribusi u. untuk
melakukan dibuat pemilihan pola, bentuk atau bagan distribusi u pada
suatu elemen. Contohnya ada satu hokum yang menyatakan supaya suatu
benda yang dibebani dapat diandalkan dan fingsional, maka dia tidak
boleh paah dimanapun dalam daerah kerjanya. Dengan kata lain, benda
harus tetap continuous. Beriku adalah beberapa langkah yang dibicarakan
dalam pernyataan-pernyataan kualitatif diatas:
-
diskritisasi dan memilih konfigurasi elemen
- memilihmodel
atau fungsi pendekatan
- menentukan hubungan
regangan(gradient)perpindahan(yang tak diketahui) dan tengangan regangan
-
menurunkan persamaan-persamaan elemen
Wacana Semi Ilmiah
Pada bulan Juni 2003, Stephenie Meyer terbangun dari mimpi tentang
sepasang kekasih muda yang berbaring di padang rumput sedang
mendiskusikan mengapa cinta mereka tidak pernah bisa bersatu. Dalam
website-nya, Meyers mengatakan, “Salah satu dari pasangan ini
hanyalah gadis biasa, dan satu lagi adalah seorang pria yang sangat
tampan, gemerlapan, dan seorang vampir. Mereka sedang membahas
rintangan yang melekat bahwa mereka saling jatuh cinta satu sama lain
sementara yang seorang vampir tertarik pada aroma darahnya.”
Mimpi
ini ternyata menjadi salah satu seri yang paling populer dalam fiksi
dewasa muda sepanjang masa. Sampai saat ini, novel Meyer telah
terjual sebanyak 17 juta kopi di seluruh dunia, lebih dari 91 minggu
berada dalam daftar New York Times Best Seller, dan telah melahirkan 4
novel berikutnya dan 4 besar anggaran film-film Hollywood.
Wacana Non Ilmiah
Di Dusun Lembah Krakatau
Cerpen St. Fatimah*)
Banjo
berjalan gontai pelan-pelan di belakang emaknya. Burung-burung gagak
hitam terbang rendah, berkoak-koak memekak. Di atas, langit yang damai
tak menjanjikan sama sekali rasa aman.
Lewat baris-baris pohon
jati di sepanjang jalan, si emak dan anak laki-lakinya itu dapat melihat
lembah Krakatau yang melandai berombak-ombak. Tak mereka jumpai lagi
sosok-sosok manusia yang berarak tak henti-henti mendaki seperti semut,
tak peduli disambut oleh lingkaran awan tebal dan gumpalan langit tak
berawan. Sebuah kabar burung tentang anak siluman telah memutus urat
keberanian mereka.
"Banjo!"
Emaknya tiba-tiba berhenti.
Mendengar
namanya dipanggil, anak itu terkejut. Bukan karena takut, melainkan
karena firasat yang semakin dekat. Kenyataan yang akan datang tentang
firasat itu bisa terasa sangat sakit, bahkan bisa juga mematikan.
"Kau
lelah, Jo? Sepertinya Emak terlalu memaksamu berjalan hingga sejauh
ini. Maafkan Emak, Jo."
Sesudah mengusap liur yang meleleh di
sudut bibirnya, si emak menggandeng tangan Banjo, dan ucapnya lagi, "Ayo
kita pergi ke pohon besar di sana itu. Kita buka bekal makanan kita.
Kau lapar kan?"
Banjo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengangguk
saja, lalu mengekor patuh di belakang emaknya.
Tidak jauh dari
situ tampak pohon besar yang rimbun daunnya. Di situ emak membuka
buntalan kain sarung, sementara anak laki-lakinya selonjor, melenturkan
otot-otot kakinya, dengan bersandar pada batang pohon besar itu.
"Banjo,
duduklah dekat Emak sini."
Banjo merangkak menuju emaknya.
Emak
mengeluarkan dua lembar daun jati tua. Ia melipat satu lembar daun jati
itu sedemikian rupa di atas telapak tangannya, hingga membentuk semacam
mangkok makan. Diisinya mangkok daun jati itu dengan nasi, gorengan
ikan asin, dan sayuran rebus. "Kau ingin Emak menyuapimu?"
Banjo
mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda setuju.
Emak menyeringai
senang, memperlihatkan sederetan gigi yang warna putihnya tak sempurna.
Ia senang melihat anak laki-lakinya makan dengan lahap. Ia seketika lupa
bagaimana anak-anak penduduk dusun sini melempari Banjo dengan tomat
busuk dan batu kerikil. Sementara orang-orang dewasa melihat kejadian
itu tanpa bereaksi apa pun selain tertawa. Apa yang lucu dari melihat
seorang bocah laki-laki yang pasrah begitu saja ditawur bocah-bocah
sebayanya, dilempari batu hingga mengakibatkan luka memar dan berdarah
di sekujur tubuhnya? Apa semua lelucon tak pernah berperasaan?
Barangkali
penduduk dusun sini meyakininya demikian. Mereka terpingkal tanpa rasa
kasihan. Beberapa di antara mereka mencorongkan tangan di mulut dan
meneriaki anak lelaki malangnya dengan kata-kata kasar. Mereka
mengerumuninya dan menggiring ke luar dusun. Emak sudah hapal dengan
perlakuan penduduk dusun ini; tanpa perasaan mendendam ia berbisik pada
diri sendiri, "Barangkali mereka capek kerja ladang seharian, lalu
mereka mencoba mencari hiburan."
Emak dengan sabar dan telaten
membesarkan hati putra semata wayangnya itu. Tak ada yang benar-benar
membuat hatinya meluap kegembiraannya, selain ketika bisa melihat wajah
Banjo tampak tersenyum sewaktu tidur. Dalam pikirannya, senyum Banjo
sewaktu tidur itu berarti segala-galanya. Leluhurnya pernah bilang, jika
di pertengahan tidurnya seorang anak mengigau atau menjerit-jerit, itu
artinya ada bayangan hitam yang menempel pada si anak. Dan emak tak mau
bayangan hitam itu satu kali saja menempeli putra tunggalnya.
Banjo
sudah lelap di pangkuan emaknya. Sementara emak mulai tak kuasa
menghardik rasa kantuknya.
Dusun yang bermandikan cahaya
kekuningan matahari menghilang di kejauhan, berangsur-angsur digelapkan
oleh kabut petang musim penghujan. Tapi musim penghujan bukan halangan
besar bagi penduduk dusun untuk mencari nafkah. Karena mereka percaya
Hyang Air dan Hyang Angin telah mereka buat kenyang dan senang hati
dengan upacara, tumbal, dan sesaji. Kepercayaan itu juga yang membuat
emak dan Banjo terusir dari dusun itu.
Semuanya seperti berputar
kembali. Kaki langit menggenang dalam kubangan kuning kemerahan.
Jangkrik-jangkrik mulai menghela komposisi kerikannya. Satu-dua burung
hantu menyembulkan kepalanya dari lubang sarangnya, membawa badannya
yang buntal ke tengger pohon yang paling tinggi --hampir menyundul dagu
bulan. Dan hewan-hewan malam lainnya pun serentak bergerilya ke sebalik
lubang-lubang amat gelap.
Emak pulang larut malam dari rumah Wak
Nardi dengan berbekal obor bambu di genggaman tangannya. Malam itu tak
seperti malam-malam lalu. Amat gelap, amat dingin, amat mencekam. Kesiur
angin membuat nyala obornya bergetar bergoyang-goyang selalu. Kedua
belah matanya beberapa kali merem-melek, menyiasati lesatan uap kabut
yang menggores jarak pandangannya.
Tapi, tiba-tiba kabut itu
dikejapkan cahaya kilat --dan sungguh mengejutkan. Begitu ganjil
kedatangan kilat itu. Kini yang dilihatnya bukan lagi kepulan kabut yang
mengendap-endap lambat menyergap, tapi semacam gumpalan asap tebal yang
mirip kepala raksasa yang bertonjol-tonjol menyeramkan.
Sekejap,
kilat menyabet terang membelah langit. Di ujung jalan berbatu di
sebelah barat, dari tengah-tengah sepasang pohon asem yang tegak kekar
di kanan-kiri badan jalan muncullah bayangan sosok tubuh yang setindak
demi setindak menuju ke arahnya, tapi hilang-hilang nyata dalam
sabetan-sabetan cahaya kilat. Betapapun emak berusaha dengan menajamkan
sorot mata kuyunya yang bernaung dalam kecekungan lubang matanya,
sia-sia saja ia mengenali wajah tubuh itu. Tapi jelas, dari gerak-gerik
sosok tubuh asing yang sedang menuju ke arahnya itu adalah sosok
perempuan.
Hatinya bergetar, berdegup-degup tak karuan. Terus
terang emak sedang ketakutan. Dinantikannya sampai sosok itu melontarkan
setidaknya satu patah kata lebih dulu. Sungguh pun diketahuinya kecil
kemungkinannya sosok itu adalah orang dusun yang dikenalnya, tapi entah
mengapa ia masih mau berdiri memaku menunggu sosok tanpa wajah itu
menegurnya.
Hingga….akhirnya sosok berwajah lembut nan cerlang
itu tersenyum padanya, bersamaan muncul lingkaran cahaya terang memusar
lalu memancar --begitu seterusnya-- di belakangnya. Cantik, sungguh
cantik. Dua belah mata yang berbinar tegas, meninggalkan sorot yang
menggores tajam setiap memandang. Bibirnya menggumpal padat berisi dan
basah mengkilap. Kulit wajahnya halus sempurna dan seputih kapas. Wajah
itu sungguh bercahaya menggetarkan dada dan menyejukkan hatinya,
sampai-sampai mulut emak menganga. Beberapa kali ia pun menghela napas,
menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara balas tersenyum balik. Ia
berubah seperti anak kecil yang tengah mendapati sebatang kembang gula
yang tiba-tiba tergenggam di kedua tangannya.
Bau harum menusuk
hidung emak. Bau harum yang mengepul dari kibasan jubah panjang sosok
makhluk cantik itu. Ya, makhluk cantik, hanya sebutan itu yang terlintas
di hatinya. Ia yakin sosok di hadapannya itu bukan satu dari bangsa
manusia seperti dirinya. Malaikatkah? Atau bangsa jin? Ia belum pernah
berjumpa dua bangsa ciptaan Hyang itu sepanjang sisa-sisa rambut ubannya
yang memutih kapas. Jadi ia tak bisa mengatakan dengan pasti, apalagi
teka-teki, dari bangsa yang mana sosok makhluk di hadapannya itu. Ia
hanya bisa mengatakan makhluk itu cantik, maka itu makhluk cantik.
Lama.
Malam tambah hening, tambah senyap, tambah penuh tanya. Tak kelihatan
lagi kejapan-kejapan kilat yang berseliweran membelah langit di atas.
Sekonyong-konyong meluncur dari sela bibir makhluk cantik itu, tapi
bibir padat berisi itu tiada bergerak, terdengar begitu saja,
kata-katanya sangat jelas dan berbunyi, "Susui jabang bayiku hingga
datang malam purnama kedua puluh tujuh…."
Serasa emak dikepung
anak buah malaikat maut, linglung tak tahu apa yang mesti diperbuat.
Jantungnya bunyi berdegup-degup, kedua belah matanya terus
berkedip-kedip. Jari-jarinya gemetar ketika menepuk-nepuk kulit pipinya
yang kisut-kendur. Suara bicara sosok itu yang menggema per kata-kata,
di telinganya persis wangsit Hyang, memekakkannya hingga kemerotak
persendian di sekujur tubuhnya kalah beradu dengan kemerosak gesekan
dedaun yang diterjang angin amat kencang, amat mencekam.
Belum
genap emak menghilangkan kekalutannya, tiba-tiba sosok mahacantik itu
melesat dekat ke arahnya. Hingga ia harus memejamkan matanya
rapat-rapat, dan hanya dua cuping telinganya yang waspada. "Akan kuambil
kembali ia bilamana purnama telah sempurna….!" Hanya beberapa detik
setelah gaungnya suara kakupak dari arah sawah penduduk di kanan-kirinya
menghampiri gendang telinganya. Hanya beberapa detik setelah angin
kencang tiba-tiba tenang, jalanan berbatu itu kembali gelap gulita.
Nyala obor di tangan emak gemetar lamban.
Setelah peristiwa itu,
esok paginya emak mengalami kesakitan dari ubun-ubun hingga kuku-kuku
jemari kakinya. Kepalanya lebih pening dari sakit pusing biasa. Tubuhnya
gemetar menggigil lebih hebat dari akibat kedinginan biasanya. Perutnya
lebih tertusuk-tusuk ketimbang rasa lapar biasa. Tulang-tulangnya lebih
rapuh daripada pengemis tua renta yang terlantar.
Orang-orang
dusun dan sekitarnya memutuskan agar emak dan suaminya dipencilkan ke
hutan di perbatasan dusun. Mereka percaya bahwa suami-istri "aneh" itu
telah dikutuk. Makhluk cantik yang konon mencegat emak pada malam ganjil
itu adalah jin yang menjelma dalam wujud malaikat samarannya. Bahkan
kepala sesepuh dusun angkat tangan mengamini mereka.
Perut emak
seperti perempuan hamil. Ia pun merasakan kesakitan-kesakitan yang lazim
dialami oleh kebanyakan perempuan hamil. Emak memang hamil. Sementara
minggu bergulir menjadi bulan. Dan ketika bulan menginjak putarannya
yang kesembilan, emak melahirkan seorang bayi laki-laki. Tanpa bantuan
dukun, tabib, atau orang pintar mana pun. Bayi laki-laki itu diberinya
nama Banjo.
Banjo tumbuh sehat, itu pasti. Emak dan suaminya
bahagia. Pun orang-orang dusun terimbas bunga rasa itu, meski dengan air
muka yang berbeda. Melihat Banjo sama saja berdiri menonton satu
atraksi "makhluk aneh" di sirkus pasar malam. Mereka membiarkan Banjo
bertingkah. Bocah itu tak sadar, kegirangan penduduk dusun jauh lebih
menyakitkan daripada tersengat ribuan lebah pekerja. Setiap kali
orang-orang dusun terbahak, setiap kali itu pula kerongkongan emak
semakin tercekat.
Hingga usia Banjo dua tahun lebih, hingga hari
yang dijanjikan itu tiba, emak mendapat mimpi aneh. Dalam mimpi itu, ia
melihat Banjo menjadi santapan makhluk serba nyala merah dan meruapkan
hawa sangat panas. Tak ada yang sempat diingatnya, kecuali dengung suara
menggelegar dari arah makhluk ganjil itu. "Aku minta anakku dari
rahimmu….!" Emak tersimpuh lemas di samping bujur kaku suaminya yang
meradang seperti orang sekarat.
Sepeninggal suaminya, masih ia
ingat ia tak kuasa menolong Banjo yang meronta-ronta waktu itu. Matanya
merah. Kedua tangannya mencengkeram jeruji-jeruji kayu, membuat kurungan
kayu itu terguncang cukup keras. Saat itulah seorang anak kecil ingusan
berlari menghambur ke halaman rumahnya ketika mendengar genderang
dipalu di jalanan dusun. Peristiwa yang jarang terjadi. Anak kecil itu
berlari membawa badannya yang tambur tanpa baju. Matanya bersinar-sinar
memandangi arak-arakan para lelaki dusun sambil memalu bekhudah2 yang
bertabuh hingar. Biji mata anak kecil itu mengikuti arakan. Serombongan
laki-laki tanpa baju yang wajah dan tubuhnya dicoreng-corengi arang
hitam mengarak seorang anak manusia dalam kurungan kayu yang ditandu.
Mereka menuju ke puncak bukit di mana bertahta sebuah pohon kekar,
mahabesar, dan menjulang tinggi. Di pelataran bawah pohon itulah Banjo
dibaringkan di atas meja batu berlumut.
Banjo harus menjalani
prosesi kurban kepada Hyang. Tubuh bocah laki-laki itu ditelanjangi.
Kedua tangan dan kakinya diikat di masing-masing sisi meja batu. Setelah
itu, seorang tetua ritual memercikkan air yang diyakini bertuah
menghilangkan kekuatan jahat yang menghuni jasad seseorang, sambil
merapal mantra.
Ingatan emak menjadi gelap. Tapi tak segelap
malam ini. Tapak tangan kasar emak tak lepas mengusap kepala Banjo.
Hampir empat belas malam berlalu, terhitung sejak malam ia "mencuri"
tubuh kapar Banjo, mereka berpindah-pindah tempat perlindungan. Keduanya
sebenarnya tidak ingin sembunyi dari kejaran orang-orang dusun. Emak
sungguh berhasrat untuk meyakinkan mereka bahwa Banjo benar-benar anak
yang lahir dari mulut rahimnya, bukan anak tumbal Hyang yang dipinjamkan
di rahimnya. Tapi mereka tidak pernah bisa menerima keyakinannya itu.
Karenanya ia dan Banjo harus berlindung dari piciknya kepercayaan mereka
pada sesuatu yang menggariskan durhaka tidaknya manusia di hadirat
Hyang.
Hampir sepertiga malam. Makhluk-makhluk yang dinapasi
misteriusnya malam, makin menggeliat dalam kehitaman rimba bumi. Tak
peduli sebuah tugas mahamulia telah memampatkan kerongkongan orang-orang
dusun yang, kebanyakan para lelakinya, bermalam-malam membidik dua
manusia paling dikutuk: Banjo dan emaknya. Meski membuat ladang-ladang
garapan mereka terbengkalai, itu tak apa! Yang penting bagi mereka,
dusun mereka bersih dari manusia-manusia durhaka, yang mengingkari
wasiat Hyang.
Waktu bergerak lambat bagai geliatan pesolek di
mata ratusan laki-laki dusun yang tersebar di tiap-tiap sudut batas
dusun, juga di tempat-tempat gelap terpencil. Dan, dua buronan mereka
telah menjadi begitu terkutuk di mata mereka, karena membuat tubuh
mereka memagut dinginnya malam demi malam tanpa kehangatan dari napas
sengal perempuan-perempuan mereka. Membuat biji mata mereka nyaris
melesat dari liangnya. Membuat darah mereka mendidih, mengerjat-ngerjat
sesekali, seperti dibakar ubun-ubun mereka. Lagi-lagi salah satu dari
mereka geram.
"Haram jadah! Aku sudah muak! Terserah laknat Hyang
kalau dusun ini masih membiarkan dua manusia terkutuk-Nya itu hidup,
bahkan mungkin bisa lebih lama dari hidup kita semua. Aku tak peduli.
Persetan! Bukankah Dia juga yang menghidup-matikan mereka?"
Persis,
belum habis satu kali kedipan mata, setelah laki-laki dusun yang geram
itu memberondongkan kalimat umpatannya, libasan petir sekonyong merobek
angkasa yang gelap tak berbintang. Menghamburkan ratusan laki-laki dusun
dari pos-pos penjagaan mereka, semburat tunggang-langgang, seperti
sekawanan semut yang baru saja diobrak-abrik sarangnya oleh moncong
trenggiling. Cambuk-cambuk petir itu mengoyak-moyak kesadaran mereka.
Semua terjadi seperti dalam murka yang dahsyat.
***
Setelah
yakin melelapkan Banjo di atas tumpukan daun-daun lebar dan reranting
kering di sisinya, emak bangkit. Melangkah terbungkuk-bungkuk menuju
mulut gua kecil yang tak sengaja diketemukannya persis ketika libasan
petir pertama, libasan paling kilat. Emak memandang saja ke kejauhan.
Petir mencekam. Kesiur angin menegakkan bulu kuduk.
Hingga…hingga
sepertinya emak melihat kelebat sinar putih. Tinggi dan besar.
Mendekat…Mendekat…Lalu melampaui diri tegaknya di tepi mulut gua.
Melingkari tubuh Banjo yang meringkuk lelap.
Tak ada perlawanan.
Tatapan emak telah menjadi begitu hampa. ***
♥ THANKS FOR READING ♥